Kebangkitan Jeruk di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat

Senin, 29 Desember 2014

Pada kisaran tahun 1985 – 2000 Pasaman sangat terkenal sebagai sentra jeruk di Sumatera Barat, sehingga banyak petani yang sukses ekonominya karena komoditas ini.  Namun dengan adanya serangan CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) atau di dunia internasional dikenal dengan huanglongbing dan penyakit lainnya, secara perlahan tanaman jeruk punah dan petani yang mengusahakannya beralih pada komoditas lain. Untuk mengembalikan kejayaannya, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah.

Setelah melakukan serangkaian penelitian, maka pada tahun 2011 BPTPH Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) menyatakan bahwa daerah-daerah sentra penanaman jeruk telah bebas dari CVPD. Berdasarkan kondisi ini, maka pada tahun 2011 Pemkab Pasbar melakukan ‘Pencanangan Lahan Pasbar Bebas CVPD’ serta mulai melakukan aksi penyuluhan untuk kembali melakukan penanaman jeruk.

Untuk merealisasikan program tersebut maka Pemkab mengajukan perencanaan penanaman jeruk di daerah Sasak dan Koto Balingka masing-masing seluas 20 Ha dan 30 Ha ke Dirjen PSP Kementan serta secara teknis telah melakukan koordinasi dengan BPTP Sumbar, Balitbu di Solok dan Balitjestro di Batu (Dinas Pertanian Pasaman Barat, 2014).  Berdasarkan SK Bupati Pasaman Barat nomor 188.45/1259/BUP-PASBAR/2013 tanggal 30 Desember 2013, maka ditetapkan bahwa Kawasan Pengembangan Jeruk Kab. Pasaman Barat terdiri dari 4 kecamatan, yaitu Kec. Pasaman, Sasak Ranah Pasisie, Lembah Melintang dan Koto Balingka.


Sumber: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/kebangkitan-jeruk-di-kabupaten-pasaman-barat-sumatera-barat/